Cara Mengatasi Gigitan Anjing Rabies Menurut IDAI

Cara Mengatasi Gigitan Anjing Rabies Menurut IDAI

Slawipos.com – Cara Mengatasi Gigitan Anjing Rabies Menurut IDAI, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan tiga tips yang perlu dilakukan jika seseorang digigit oleh anjing yang membawa virus rabies. Hal ini penting karena lebih dari 95 persen kasus rabies disebabkan oleh gigitan anjing. Selain itu, 40 persen kasus rabies menimpa anak-anak yang suka bermain dengan hewan.

Tiga tips yang diberikan oleh IDAI adalah sebagai berikut:

  1. Cuci luka dengan air mengalir dan sabun selama 10-15 menit. Ini bertujuan untuk mengeluarkan virus rabies dari luka. “Kalau tergigit, tetap tenang. Luka dicuci dengan air mengalir. Harus mengalir supaya virus rabies bisa keluar. Kalau air baskom, akhirnya virus terbalik-balik di situ terus. Harus selama 10-15 menit. Harus pakai sabun,” ujar Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Novie Homenta Rampengan dalam konferensi pers secara daring, Jakarta Sabtu (17/6/2023).
  2. Berikan antiseptik seperti iodin atau alkohol dengan kadar 70 persen pada luka. Ini bertujuan untuk mencegah infeksi.
  3. Segera ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Di sana, tenaga medis akan melakukan pencucian luka kembali dan memberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) sesuai dengan indikasinya. “Jadi rabies dapat dicegah asalkan 70 persen anjing dalam populasi minimal mendapat vaksinasi. Rabies mematikan namun dapat dicegah,” kata Novie.
Baca Juga :   Progres Terbaru Pembangunan Jalan Trans Papua Mei 2023

Novie juga menjelaskan bahwa luka gigitan anjing rabies bisa dibedakan menjadi luka risiko tinggi dan risiko rendah. Luka risiko tinggi adalah luka pada mukosa, luka banyak, luka di daerah bahu ke atas. Luka risiko rendah adalah luka jilatan pada pada kulit terbuka, luka lecet, dan sebagainya.

Gejala rabies pada manusia diawali dengan demam, badan lemas dan lesu, tidak nafsu makan, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, dan nyeri di lokasi gigitan. Kemudian berkembang menjadi rasa kesemutan atau rasa panas di lokasi gigitan, cemas, dan fobia terhadap air, cahaya, udara, dan bicara sebelum meninggal dunia