Warga Brebes Krisis Air Bersih di Kemarau 2023, Terpaksa Pakai Air Irigasi yang Keruh

Sistem Gilir dan Kawal Air Diterapkan di Brebes untuk Antisipasi Kekeringan saat Kemarau

Slawipos.com – Warga Brebes Krisis Air Bersih di Kemarau 2023, Terpaksa Pakai Air Irigasi yang Keruh, Musim kemarau yang berkepanjangan saat ini semakin menyiksa warga yang kekurangan air bersih. Bahkan, ketiadaan air membuat warga terpaksa menggunakan air irigasi yang keruh.

Hal ini terjadi di wilayah Brebes. Tepatnya di Dusun Wangon Desa Kubangsari Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes. Daerah ini saat ini mengalami krisis air bersih.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mereka harus mengeluarkan uang setiap hari. Salah seorang warga, Tarwad, 54 tahun mengaku, setiap warga harus membayar untuk dapat air dari instalasi desa.

Tiap 1.000 liter atau satu kubik warga dikenakan biaya Rp5000.

“Dalam sebulan kalau musim kemarau sampai Rp100 ribu. Tapi kalau pas musim hujan, paling Rp70 ribu. Satu kubik kita kudu bayar Rp5000,” ungkap Tarwad.

Sementara warga lain, Sawud, 65 tahun, menerangkan, untuk bisa menggunakan dari instalasi desa perlu diendapkan 3 sampai 5 hari karena keruh. Karena itu, di rumahnya terdapat beberapa buah drum penampungan sebagai wadah air.

“Yang di drum ini kiriman dari irigasi kemarin. Makanya airnya keruh, perlu didiamkan sampai bening baru dipakai. Untuk berjaga-jaga, saya pakai 6 drum, biar tidak sampai kehabisan,” ceritanya.

Baca Juga :   Rumah Korban Tanah Bergerak di Brebes Terpaksa Dibongkar

Musim kemarau tahun ini memang membuat debit air bersih di desa tersebut mulai menyusut.

Perangkat Desa Kubangpari Kecamatan Ketanggungan Erik Setiawan mengatakan, untuk keperluan konsumsi warga memanfaatkan sumur bor dari desa tetangga. Sedangkan jaraknya, dari Dusun Wangon dan lokasi sumur lebih dari 2 kilometer.

Air dari sumur itu kemudian disalurkan melalui pipa pipa panjang hingga ke rumah rumah warga. Pada musim hujan, warga memanfaatkan air hujan untuk semua keperluan harian, baik cuci, mandi dan konsumsi.

Air dari langit mereka tampung di bak penampungan yang ada di tiap-tiap rumah.

“Satu dusun di Desa Kubangsari, Dusun Wangon memang tidak ada sumber air sama sekali. Makanya mereka mengandalkan hujan yang ditampung dan air kiriman dari sumber di luar desa yang jauh,” ungkapnya kepada wartawan, Senin 26 Juni 2023.

Memasuki musim kemarau, warga setempat selalu menghadapi masalah air bersih. Pasokan dari sumur bor menyusut karena debitnya makin kecil. Untuk memenuhi kebutuhan warga, dibuat lagi instalasi air resapan yang menggunakan air irigasi.

Baca Juga :   Polres Pemalang Naikkan Pangkat 22 Personil dan Wisuda 9 Purnabakti

Namun, kata Erik, pasokan dari irigasi sering dikeluhkan warga karena keruh. Air resapan ini pun debitnya tidak menentu tergantung ketersediaan dari sumber irigasi.

“Memang ada beberapa sumber, tapi kalau kemarau debitnya mengecil. Tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar 2.000 orang. Sehingga dibuat lagi air resapan dari sumber irigasi. Cuma airnya keruh banyak kotoran dan harus diendapkan 3 hari baru bisa diminum,” jelasnya.

Selama musim kemarau, lanjut dia, warga lebih banyak mendapat pasokan dari irigasi. Karena itulah, tidak sedikit warga lebih memilih membeli air dari pedagang keliling.

“Kalau orang golongan mampu banyak yang beli dari pedagang keliling. Tapi bagi yang pas-pasan lebih suka mengendapkan air yang keruh itu. Karena saat kemarau ini mereka lebih banyak dapat pasokan dari sumber irigasi,” tuturnya.